~~Sebuah artikel yang telah lama mengendap di komputer~~

Sobat, negeri ini sungguh penuh ironi…
Bagaimana tidak? Negeri ini dijuluki sebagai “zamrud khatulistiwa”, namun di kota sekelas Surabaya saja, ada warganya yang harus menjual ginjalnya untuk bertahan hidup. Di Riau yang kaya SDA, gizi buruk malah mewabah.
Dalam Al-Quran, umat Islam dipuji sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan di bumi ini. Bukankah kita adalah khalifah (wakil) Allah di muka bumi ini? Tapi di negeri dengan jumlah penduduk muslimnya terbesar di dunia inilah, segala macam kerusakan terjadi. Pornografi dan korupsi menjadi juara, yang jujur justru ajur (hancur), penistaan agama merebak dan orang yang mengikat diri dengan agamanya malah disebut teroris. Pun ekspor terbesarnya justru dari mengekspor warga negaranya yang diberi embel-embel pahlawan devisa.
What a shame! Sungguh memalukan bukan?
Dalam benak kita mungkin telah terbersit berbagai macam alasan terkait kondisi kita yang babak belur saat ini, sebuah mekanisme pembelaan ego. Apakah yang muncul adalah alasan klasik macam akhlak insaninya? Tingkat pendidikan? Ekonomi? Penguasaan teknologi? Atau mungkin yang setingkat lebih tinggi, tidak seriusnya pemerintah dalam mengurusi rakyatnya alih-alih malah mengurusi dirinya sendiri? Berjanji begitu indah pada saat kampanye. Tapi bukankah janji ada untuk (tidak
ditepati?
Namun, tidakkah semua alasan itu telah terjawab oleh Negara lain. Siapa yang meragukan akhlak para mufti di Arab sana? Siapa yang memungkiri bahwa bangsa yahudi adalah umat terpandai yang pernah dilahirkan? Siapa yang tidak segan dengan kekuatan ekonomi Cina? Siapa juga yang tidak silau dengan kemajuan teknologi di barat? Siapa yang tidak puas dengan keseriusan pemerintah Singapura dalam memajukan negerinya yang bahkan lebih kecil dari Surabaya?
Tatapi, adakah dari Negara-negara di dunia ini yang benar-benar sukses? Timur Tengah dikenal sebagai tanah para Nabi, tapi justru kota Manama di Qatar masuk dalam daftar 10 kota paling penuh dosa di dunia ini. Bersanding dengan Pattaya, Los Angeles, dan 7 kota penuh dosa lainnya.
Dengan kecerdasannya, bangsa yahudi justru mendapat laknat Allah. Dengan kecerdasannya pula mereka membantai penduduk Palestina tanpa memandang Agama, status, gender, bahkan usia!
Gilang-gemilang pertumbuhan ekonomi ternyata tidak membuat Cina luput dari masalah kesenjangan ekonomi. Seorang ayah dengan tega memajang anaknya di pinggir jalan dengan harapan ada yang mau membeli si anak. Ada lagi seorang ibu yang merekam anaknya mandi agar anaknya segera “laku” dinikahi. Sebuah langkah putus asa yang terilhami dari “kisah kesuksesan” orang lain.
Begitu pula dengan barat dan teknologinya, mereka menggunakannya untuk membekingi israel dalam “aksi pembelaan”-nya terhadap mujahidin Palestina. Mereka menggunakan senjata, teknologi, dan kemajuannya untuk memuluskan rencana penjajahan mereka terhadap negara-negara yang tidak mau tunduk pada kemauan mereka.
Dengan keseriusannya, pemerintah Singapura pun tidak berdaya dalam meningkatkan gairah hidup warganya. Segala macam fasilitas telah dipenuhi, berbagai macam parameter kesejahteraan telah tercukupi. Namun, dengan semakin minimnya pertambahan penduduk baru, warganya malah antri menuju kehidupan selanjutnya.
Jadi? Mungkin kita masih memenuhi benak dengan berharap bahwa ini adalah sebuah proses. Proses panjang menuju tatanan masyarakat yang diimpi-impikan. Kalaulah benar bahwa ini adalah tahapan dari sebuah proses, nyatanya kita tengah berada dalam sebuah proses menuju keterpurukan. Lihat saja adik-adik kita yang masih ingusan itu.
Memang mereka semakin pintar saja dalam ranah psikomotor, kognitif. Afektifnya? Rasa percaya diri adik-adik kita memang luar biasa, mereka PD aja dalam melakukan kebaikan dan juga kemaksiatan.
Atau mungkin masih terasa mimpi bila ada Negara yang mampu tampil perfect dalam segala hal. Sebuah masyarakat yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghofur. Sebuah kehidupan yang individunya berakhlak mulia, generasinya menjadi mercusuar peradaban, ekonominya kokoh, teknologinya terdepan, dengan pemerintahan yang terpercaya. UTOPIS bukan? Orang boleh bilang seperti itu, tapi itu adalah realistis. Mengapa? Karena telah ada buktinya! Negara impian itu MEMANG pernah ada dan kejayaan itu bisa ditegakkan kembali.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka akan tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka termasuk orang-orang yang fasik.” (TQS.an-Nur : 55)
“Sesungguhnya Allah telah menghamparkan bumi bagiku, maka aku melihat belahan bumi bagian timur dan bagian barat dan kekuasaan umatku akan meliputi bagian bumi yang telah dihamparkan bagiku”. (HR. Muslim).
Itulah janji Allah dan Rasul-Nya. Namun memang akan menjadi sebuah utopia bila kita percaya pada sebuah janji tetapi kita tidak pernah berusaha dalam mewujudkannya. Dan inilah SEBAB UTAMA yang menjadikan kita terpuruk saat ini.
“Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. Al-A’raaf : 96)
“Maka datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan celaka. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan pada Hari Khiamat akan dikembalikan dala keadaan buta.” (TQS. Thaha : 123-124)
Seperti di awal tadi, negeri ini memang penuh ironi. Karena justru yang menjadi penentang dan peragu adalah umat Islam sendiri. Bila yang menyangkal dan meragukannya adalah orang-orang yang beragama lain tentu bisa dimaklumi, karena mereka memang belum beriman dan berIslam.
Mungkinkah kita masih seperti anak kecil yang senang dengan mainan hewan-hewanan, tapi saat dihadapkan pada hewan yang aslinya malah lari ketakutan? Atau kita masih merasa nyaman, terbuai dengan kondisi yang ada, enggan untuk terbangun dari tidur ini. Kita masih takut untuk menghadapi kenyataan dan menyakini bahwa SAATNYA KHILAFAH KEMBALI MEMIMPIN DUNIA.

ditulis untuk tugas halqah waktu SMA dulu…
jadi teringat masa-masa itu… T__T


